Dampak tanggung jawab sosial perusahaan, Mekanisme pengawasan tingkah laku, dan Komunitas indonesia dan etika bisnis.
NAMA
: Muhamad Boby Reza
NPM
: 14218297
KELAS
: 3EA32
JURUSAN : Manajemen
1. Dampak tanggung jawab sosial perusahaan
PENGERTIAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL
Tanggung
jawab sosial suatu perusahaan atau Corporate Social Responsibility merupakan
suatu komitmen usaha untuk bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan
berkontribusi untuk peningkatan ekonomi bersamaan dengan peningkatan kualitas
hidup dari karyawan dan komunitas lokal. Selain itu, Corporation Social
Responsibility juga merupakan konsep bahwa organisasi dan perusahaan memiliki
suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan
lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan. Bentuk tanggung jawab
yang ada disesuaikan dengan objeknya masing-masing.
ASPEK PENDORONG TANGGUNG JAWAB SOSIAL
Klasifikasi
masalah sosial yang mendorong pelaksanaan tanggung jawab sosial pada sebuah
bisnis sebagai berikut:
Penerapan Manajemen Orientasi Kemanusiaan
Kegiatan intern yang muncul bersifat sangat kaku, keras, zakeliyk (saklek), birokratik, dan otoriter.
Manfaat Penerapan Manajemen Orientasi Kemanusiaan :
– Peningkatan moral
kerja karyawan yang berakibat membaiknya semangat dan produktivitas kerja.
– Adanya partisipasi
bawahan dan timbulnya rasa ikut memiliki sehingga tercipta kondisi manajemen
Partisipatif
– Penurunan absen
karyawan yang disebabkan kenyamanan kerja sebagai hasil hubungan kerja yang
menyenangkan dan baik.
– Peningkatan mutu
produksi yang diakibatkan oleh terbentuknya rasa percaya diri karyawan.
– Kepercayaan konsumen yang meningkat dan merupakan modal dasar bagi perkembangan selanjutnya dari perusahaan.
BENTUK TANGGUNG JAWAB SOSIAL
Berikut
ini adalah uraian yang lebih mendetail mengenai bentuk tanggung jawab sosial
yang wajib dilakukan oleh sebuah perusahaan kepada masing-masing objek yang
terkait.
1.
Tanggung Jawab
Sosial Kepada Konsumen
Dalam dunia perdagangan dan industri, kepuasan konsumen merupakan tanggung jawab yang paling utama. Kepuasaan konsumen ini dapat tercapai dengan cara:
·
Memberikan harga
sesuai dengan kualitas barang yang dijual, atau dengan kata lain, perusahaan
berlaku jujur dan tidak melakukan penipuan dalam pemasaran produk.
·
Produk yang
dijual merupakan produk yang sehat dan tidak mengancam kesehatan konsumen.
·
Memberikan
garansi dan diskon yang sesuai pada produk yang dijual.
2.
Tanggung Jawab
Sosial Kepada Karyawan
Karyawan merupakan salah satu faktor penunjang terpenting dalam perusahaan. Agar perusahaan dapat berjalan dengan baik, keharmonisan antara pihak perusahaan dengan karyawan haruslah terjaga. Oleh karena itu, pihak perusahaan haruslah memperlakukan karyawan dengan baik sesuai dengan hak mereka. Berikut ini adalah bentuk tanggung jawab yang dapat dilakukan pihak perusahaan kepada karyawan:
·
Memberikan gaji
sesuai dengan jam kerja yang dihabiskan karyawan.
·
Memberikan
asuransi kesehatan beserta tunjangan kepada karyawan.
·
Memberikan
kenaikan gaji apabila terjadi laju inflasi di negara tempat perusahaan tersebut
berdiri.
3.
Tanggung Jawab
Sosial Kepada Pemegang Saham
Pemegang saham juga merupakan faktor penunjang yang penting dalam berdiri dan berjalannya suatu perusahaan karena merekalah yang memberikan modal agar perusahaan tersebut dapat terus beroperasi. Pemegang saham mendapat keuntungan melalui deviden yang diterima pada saat pelaporan keuangan perusahaan di setiap tahunnya. Berikut ini adalah bentuk tanggung jawab sosial yang dapat dilakukan perusahaan kepada para pemegang saham:
·
Memberikan
laporan keuangan secara jujur dan transparan.
·
Tidak
menggelapkan laba perusahaan dan tidak mengurangi keuntungan para pemegang
saham.
4.
Tanggung Jawab
Sosial Kepada Lingkungan
Selain kepada manusia yang terlibat dalam berdiri dan berjalannya sebuah perusahaan, perusahaan juga mempunyai tanggung jawab kepada lingkungan yang ada di sekitar perusahaan tersebut. Tindakan perusahaan terhada lingkungan dapat dijadikan sebuah parameter baik atau tidaknya sebuah perusahaan. Tanggung jawab sosial yang dapat dilakukan perusahaan terhadap lingkungan adalah sebagai berikut:
·
Membuang limbah
perusahaan dengan metode yang baik dan benar serta tidak mencemari lingkungan sekitar.
·
Melakukan rehabilitasi
yang secara tidak sengaja rusak akibat kegiatan perusahaan. (misalnya
perusahaan kertas yang dalam produksinya terus-menerus menebang pohon, mereka
harus menanam ulang pohon tersebut dengan pohon baru yang lebih muda).
TUJUAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL
- Agar perusahaan dapat
mendasarkan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan norma-norma moral dan etika.
- Agar perusahaan
meluncurkan produk yang mampu memenuhi kebutuhan para penggunanya.
- Perusahaan menyediakan
informasi dan melakukan promosi yang jujur dan faktual tentang produk yang
dihasilkan.
- Agar perusahaan
memberikan informasi mengenai komposisi, takaran manfaat, tanggal kadaluwarsa
produk, kemungkinan efek samping, cara penggunaan yang tepat, kuantitas, mutu,
dan harga dalam kemasan produknya untuk memungkin konsumen mengambil keputusan
rasional dalam mempergunakan suatu produk.
- Agar perusahaan
memperhatikan keselamatan dan keamanan konsumen ketika menggunakan produk
tersebut.
DAMPAK TANGGUNG JAWAB TERHADAP ETIKA BISNIS
Hasil
Survey “The Millenium Poll on CSR” (1999) yang dilakukan oleh Environics International
(Toronto), Conference Board (New York) dan Prince of Wales Business Leader
Forum (London) di antara 25.000 responden dari 23 negara menunjukkan bahwa
dalam membentuk opini tentang perusahaan, 60% mengatakan bahwa etika bisnis,
praktik terhadap karyawan, dampak terhadap lingkungan, yang merupakan bagian
dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) akan paling berperan. Sedangkan
bagi 40% lainnya, citra perusahaan & brand image-lah yang akan paling
memengaruhi kesan mereka.
Hasil
survey ini menunjukan bahwa tanggung jawab sosial sangat berperan dalam
pembentukan opini sebesar 60% dan salah satunya merupakan etika bisnis.
Tanggung jawab sosial perusahaan sangat mempengaruhi kinerja segala aspek
misalnya lingkungan, karyawan sehingga mendorong etika bisnis dalam perusahaan
tersebut.
Kepedulian
kepada masyarakat sekitar/relasi komunitas dapat diartikan sangat luas, namun
secara singkat dapat dimengerti sebagai peningkatan partisipasi dan posisi
organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya kemaslahatan
bersama bagi organisasi dan komunitas. CSR bukanlah sekedar kegiatan amal,
melainkan CSR mengharuskan suatu perusahaan dalam pengambilan keputusannya agar
dengan sungguh-sungguh memperhitungkan akibat terhadap seluruh pemangku
kepentingan (stakeholder) perusahaan, termasuk lingkungan hidup.
2.
Mekanisme pengawasan tingkah laku
Mekanisme dalam
pengawasan terhadap para karyawan sebagai anggota komunitas perusahaan dapat
dilakukan berkenaan dengan kesesualan atau tidaknya tingkah laku anggota
tersebut denga budaya yang dijadikan pedoman korporasi yang bersangkutan.
Mekanisme pengawasan tersebut berbentuk audit sosal sebagai kesimpulan dari
monitoring dan evaluasi yang dilakukan sebelumnya.
Monitoring dari
evaluasi terhadap tingkah laku anggota suatu perusahaan atau organisasi pada
dasarnya harus dilakukan oleh perusahaan yang bersangkutan secara
berkesinambugan. Monitoring yang dilakuka sifatnya berjangka pendek sedangkan
evaluasi terhadap tingkah laku anggota perusahaan berkaitan dengan kebudayaan
yang berlaku dilakukan dalam jangka panjang.
Hal dari evaluas
tersebut menjadi audit sosial. Pengawasan terhadap tingkah laku dan peran
karyawan pada dasarnya untuk menciptakan kinerja karyawan itu sendiri yang
mendukung sasaran dan tujuan dari proses berjalannya perusahaan. Kinerja yang
baik adalah ketika tindakan yang diwujudkan sebagai peran yang sesuai dengan
status dalam pranata yang ada dan sesuai dengan budaya perusahaan yang
bersangkutan.
Oleh karena itu, untuk
mendeteksi apakah budaya perusaaan telah menjadi bagian dalam pengetahuan
budaya para karyawannya dilakukan audit sosal dan sekaligus merencanakan apa
aja yang harus dilakukan oleh perusahaan untuk menguatkan nilai-nilai yang ada
agar para karyawan sebagai anggota perusahaan tidak memunculkan pengetahuan
budaya yang dimilikinya di luar lingkungan perusahaan.
Dalam kehidupan komunitas atau komunitas secara umum, mekanismne
pengawasan terhadap tindakan anggota-anggota komunitas biasanya berupa
larangan-larangan dan sanksi-sanksi sosial yang terimplementasi di dalam atura
adat. Sehingga tampak bahwa kebudayaan menjadi sebuah pedoman bagi berjalannya
sebuah proses kehidupan komunitas atau komunitas. Tindaka karyawan berkenaan
dengan perannya dalam pranata sosial perusahaan dapat menen tukan
keberlangsungan aktivitas.
Karyawan sebagai stake
holder, terdapat juga para bekas karyawan, para direksi, pemilik modal yg juga
menentukan berjalannya aktivitas pranata sosial perusahaan. Kesemua stakeholder
tersebut menduduki status dan peran tertentu dalam koporasi dan mempunyai
hubungan fungsional satu dengan lainnya.
Pada dasarnya suatu
perusahaan adalah sebuah organisasi yang dalam kenyataannya menempati suatu
wilayah sosial tertentu. Dan sebagai suatu bentuk organisai,korporasi tentunya
mempunyai tujuan yang dapat dipahami secara bersama oleh para anggotanya dan
dapat menjamin kehidupan para anggotanya dalam lingkup organisasi yang
bersangkutan. Perusahaan sebagai bagian dari suatu komunitas dan mempunyai
suatu kebudayaan tersendiri akan mempunyai sifat yang adaptif terhadap
lingkungannya, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial dan budaya yang
ada disekitarnya.
Berjalannya suatu
perusahaan tidak akan lepas dari segala perhitungan dan perencanaan yang
mengatur pola aturan yang ada, seperti halnya pada komuitas lainnya seperti
komunitas suku bangsa. Kehidupan sosial komunitas suku bangsa tersebut dalam
lingkup kecil (Desa/kampung/dusun) dapat dipantau dan di monitor oleh adat istiadatnya sesuai dengan pranata
sosial yang berlaku (kekerabatan,ekonomi, teknologi, mata pencaharian dsb). Dalam perusahaan, apa yang dikatakan sebagai
proses audit sosial adalah mirip atau sama dengan cara – cara yang dipakai
untuk memeriksa keuangan perusahaan yang bersangkutan.
Sebagai sebuah
organisasi, perusahaan yang mempunyai beberpa tenaga ahli dalam menyiapkan
anggaran–anggaran yang dikelurakan, dan begitu dengan pemerikasaan terhadap
anggaran yang telah dikelurkan berkaitan dengan berjalannya organisasi yang
bersangkutan seperti ahli akuntansi dan pemegang buku.
Tenaga–tenaga ahli
tersebut merupakan individu–individu yang menduduki status tertentu, status dalam
hal ini adalah kumpulan hak dan kewajiban yang ada pada diri seseorang dalam
satu lingkup kebudayaan . Sehingga individu tersebut harus berperan sesui
dengan apa yang diisyratkan oleh kebudayaan yang mengatur status yang
bersangutan.
Sehingga pengukuran finansial sebuah organisasi akan juga dipengaruhi oleh pegawai (tenaga) dari pengukur tersebut, dan ini sangat terkait dengan sistem sosial dari pegawai yang bersangkutan. Memang pada dasarnya anggota perusahaan berasal dari anggota komunitas yang berbeda–beda kebudayaan dan sukubangsa , dan dengan bersama–bersama dengan orang lain yang berbeda kebudayaan dan sukubangsa bergabung sebagai satu komunitas perusahaan. Dalam kehidupan komunitas, sistem sosial akan terus berjalan untuk mengatur segala tingkah laku individu-individunya.
3.
Komunitas indonesia dan etika bisnis
Indonesia memerlukan
suatu bentuk etika bisnis yang sangat spesifik dan sesuai dengan model
Indonesia. Hal ini dapat dipahami bahwa bila ditilik dari bentuknya, komunitas
Indonesia, komunitas elit dan komunitas rakyat.Bentuk-bentuk pola hidup
komunitas di Indonesia sangat bervariasi dari berburu, meramu sampai dengan
industri jasa.
Dalam suatu kenyataan
di komunitas Indonesia pernah terjadi malapetaka di daerah Nabire, Papua. Bahwa
komunitas Nabire mengkonsumsi sagu, pisang, ubi dan dengan keadaan cuaca yang
kemarau, tanah tidak dapat mendukung pengolahan bagi tanaman ini. Kondisi ini
mendorong pemerintah untuk dapat membantu komunitas tersebut. Dari gambaran
ini, tampak bahwa tidak adanya rasa empati bagi komunitas elit dalam memahami
pola hidup komunitas lain.
Dalam konteks yang
demikian, maka perusahaan dituntut untuk dapat memahami etika bisnis ketika
berhubungan dengan stakeholder diluar perusahaannya, seperti komunitas lokal
atau kelompok sosial yang berbeda pola hidup.
Source :
http://izniefebriana20.blogspot.com/2017/04/etika-bisnis-bab-8-hubungan.html
http://fathialamanda.blogspot.com/2016/12/tugas-etika-bisnis-softskill.html
Comments
Post a Comment